Senin, 28 November 2011

RAPAT TERBATAS WANTIMPRES MENGENALI ASET SEJARAH DAN BUDAYA SEBAGAI BAGIAN DARI PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA

Foto :  Humas Bulukumba

Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa lebih jauh dari sekedar mencerdaskan otak, karena mencerdaskan kehidupan bangsa adalah konsep budaya, yaitu menginternalisasikan nilai-nilai sebagai bangsa yang berkarakter, mempunyai jati diri, watak sebagai bangsa yang bermartabat, mandiri, tangguh, mencintai sesama, mampu menjadi tuan di tanah air sendiri, berdiri sejajar dengan bangsa lain, dan mampu mendisain masa depannya sendiri tanpa menggantungkan nasibnya pada bangsa lain. 

Berdasar pada hal tersebut, Prof Dr Meutia Hatta Swasono, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI Bidang Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan Rapat Terbatas dengan Pemkab Bulukumba dan para stakeholder di bidang pendidikan dan kebudayaan di Ruang Rapat Bupati, Senin (28/11) dalam rangka mengenali aset-aset sejarah dan budaya sebagai bagian dari pendidikan karakter bangsa. Peserta yang hadir dalam rapat ini diantaranya, Sekda A Bau Amal, Asisten I Pemkab sekaligus budayawan Mahrus Andis, Kadis Budpar A Nasaruddin Gau, pemerhati Pinisi Muh Arif Saenong, Ketua PGRI Jumase, Ketua STKIP A Sumrah, Kepsek SMA 2 Bulukumba A Muh Ridwan, dan beberapa tokoh masyarakat dan agama.
Dari diskusi rapat tersebut terungkap bahwa pembuatan Pinisi kaya akan nilai-nilai tentang pendidikan karakter bangsa, mulai dari prosesi pembuatannya hingga peluncurannya. Pinisi sebagai kebanggaan nasional dibuat berdasarkan kearifan lokal, sudah digunakan sebagai sarana transportasi sejak masa perjuangan. Proses pembuatannya memuat nilai-nilai pendidikan, demokrasi, membangun pembentukan karakter, etika hubungan antara punggawa dan sawi (pekerja).
Menurut Meutia Hatta, dengan bahan baku kayu yang semakin langka, maka perlunya melakukan penanaman pohon sedini mungkin oleh khususnya kepada para anak-anak. Walaupun katanya tidak dapat dimanfaatkan dalam waktu dekat, namun paling tidak diharapkan mampu melestarikan pembuatan perahu Pinisi di masa akan datang.
Guru Besar Antropologi UI ini juga mengharapkan pentingnya muatan lokal untuk pendidikan karakter bangsa yang dibangun di atas kearifan lokal. Olehnya itu dibutuhkan perhatian pemerintah pusat dalam membuka ruang dalam membangun pendidikan karakter bangsa di daerah.“Budaya Kajang jangan diintervensi dengan budaya modern, biarkanlah mereka hidup dengan mempertahankan kearifan lokal yang ada di masyarakat adatnya. Kalaupun suatu saat modernisme masuk biarkan hal itu terjadi secara alami” ujar Meutia. Seharusnya, katanya budaya Kajang dan Pinisi harus menjadi kebanggaan dan milik bangsa secara nasional sehingga inilah yang akan dijadikan sebagai salah satu dari nilai-nilai membangun karakter bangsa tersebut.
Dari rapat terbatas tersebut disimpulkan bahwa perlu segera melakukan penelitian dan inventarisasi muatan-muatan lokal dari budaya yang ada di Bulukumba untuk dimasukkan ke dalam kurikulum atau bahan ajar para siswa SD sampai SMA dengan menerbitkan buku-buku cetakan mengenai hal tersebut, serta dibutuhkan pengembangan wawasan bagi para guru-guru dalam mempersiapkan pengajaran kepada para siswa khususnya materi pendidikan karakter bangsa.(ubayd-ulla)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar